Puta Putri Salju
Langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah menara miring yang tersusun dari buku-buku raksasa. Dindingnya bukan bata, melainkan jilid tua berlapis tinta dan waktu. Di puncaknya, cahaya kehijauan berputar seperti kompas yang kehilangan arah.
“Tempat ini... tak pernah aku tulis,” gumam Muhammad.
“Tapi ini pasti bagian dari dunia yang kau bayangkan,” sahut Mutia.
Sang Penjaga berdiri di belakang mereka.
“Dunia ini hidup dari imajinasi dan kenangan. Tapi ketika seorang Penulis melupakan kisah atau menghentikan ceritanya di tengah jalan… Karakter-karakter yang tercipta tak benar-benar hilang. Mereka berubah.” “Berubah jadi apa?” “Jadi liar. Jadi haus makna.”
Salah satunya — Sachera — dulunya adalah karakter utama dalam naskah lama Muhammad. Ia diciptakan sebagai pelindung cahaya, simbol harapan dalam kisah pertamanya. Tapi cerita itu tak pernah selesai.
Sachera, tokoh yang awalnya murni dan penuh idealisme, kini menjadi Bayangan Tak Bernama.
Sachera:
Karakter fiksi yang kehilangan tujuan karena cerita yang tak pernah rampung. Kini, ia haus kendali, dan ingin keluar dari dunia imajinasi — ke dunia nyata.
“Lihat ini,” ujar Sang Penjaga sambil menyerahkan sebuah gulungan kecil kepada Muhammad.
“Hanya kau yang tahu jalan pikirannya. Kau yang menulisnya. Maka kau pula yang paling mungkin menaklukkannya.”
Muhammad membuka gulungan itu perlahan. Di dalamnya tertulis paragraf-paragraf usang: dialog tak rampung, narasi dengan coretan, dan catatan revisi yang tak pernah ia kembalikan. Nama Sachera ada di sana — lengkap dengan karakteristiknya yang dulu luhur, namun kini sudah tak utuh.
“Ini... draf lama yang aku tinggalkan,” ucapnya lirih. “Dan kini dia menuntut akhir.”
Sang Penjaga mengangguk.
“Dalam Mystic Potlot, karakter yang tak diberi arah bisa menciptakan arahnya sendiri — dan itu tidak selalu selaras dengan maksud penciptanya.”