Putra Putri Salju
Langkah mereka tertatih saat menuruni lereng lembut yang tampak seperti guratan-guratan pensil di kertas kasar. Di bawah sana, kabut mulai menipis, dan sinar keemasan temaram muncul dari kejauhan — bukan dari matahari, tapi dari sesuatu yang lebih... dalam.
Mutia menatap langit Mystic Potlot, kini lebih tenang dari sebelumnya. “Tempat ini... berubah-ubah. Seolah tahu apa yang kita pikirkan.”
Muhammad mengangguk. “Karena ini bukan dunia biasa. Ini kumpulan coretan — yang belum selesai... atau pernah selesai tapi dilupakan.”
Mereka menuruni jalan setapak yang tampak seperti dilukis tangan. Bebatuan bulat tersusun rapi, rerumputan bergoyang pelan meski tak ada angin. Di ujung jalan itu, berdiri sebuah paviliun kecil dari bambu emas, mengambang di atas danau berkilau.
Dan di sana... seseorang sedang menunggu.
“Arkan...?” Muhammad hampir tak percaya.
Sosok itu berdiri tegap, mengenakan jubah putih sederhana, dengan coretan tipis bercahaya yang menghiasi ujung lengan dan kerahnya. Wajahnya bersih, tatapannya teduh. Arkan — salah satu karakter yang pernah Muhammad tulis hingga selesai, dalam sebuah cerpen yang nyaris ia lupakan.
“Sudah lama,” kata Arkan. “Kau akhirnya kembali.”
Mutia menatap Muhammad. “Siapa dia?”
“Dia... salah satu yang berhasil kuselesaikan. Kupikir ceritanya sudah berakhir.” Muhammad menunduk, suara pelan. “Tapi ternyata mereka yang selesai... bisa tetap hidup di sini.”
Arkan tersenyum. “Kami para ‘selesai’ menjaga harmoni Mystic Potlot. Tapi sejak kau berhenti menulis, dan terlalu banyak coretan dibiarkan terbuka... yang belum selesai mulai menuntut tempat.”
Muhammad menggenggam kunci pusaka. “Sachera. Dia yang memimpin mereka.”
“Dia bukan hanya coretan, Muhammad. Dia adalah simbol dari semua cerita yang kau tinggalkan saat kau berhenti percaya pada dirimu sendiri.”
Muhammad terdiam. Kalimat itu menusuk.
“Dunia ini butuhmu kembali, bukan hanya sebagai pengarang... tapi sebagai pengingat. Bahwa bahkan coretan yang tercecer pun bisa diberi makna. Jika kau mau menyelesaikannya — atau merelakannya sepenuh hati.”
Mutia menatap Muhammad. “Kamu bisa?”
Muhammad menatap sekeliling. Danau itu, paviliun emas, dan cahaya yang mengalir dari langit — ini adalah sisi terang dari imajinasi. Sisi yang pernah membuatnya jatuh cinta pada menulis.
“Aku mau mencoba,” katanya. “Tapi aku nggak bisa sendiri.”