Putra Putri Salju
Langit Mystic Potlot tidak lagi berwarna jingga. Awan kelabu menggulung berat, dan setiap petir yang menyambar terdengar seperti sobekan besar di lembaran cerita. Muhammad berdiri diam di sisi Mutia, menghadap hamparan tanah asing yang kini terasa terlalu nyata.
Ia mengenal tempat ini. Dulu ia menyebutnya Dataran Kosong — tempat di mana ia sering membuang ide-ide setengah jadi, karakter yang gagal, dan latar yang tak pernah digunakan lagi.
Namun kini, Dataran Kosong hidup. Dan penuh dendam.
“Semuanya ini... muncul dari coretanmu?” tanya Mutia, napasnya berat.
Muhammad mengangguk perlahan. “Ya. Tapi aku tidak pernah menyelesaikan mereka. Mereka hanya... sisa-sisa.”
Kabut tebal berputar di hadapan mereka. Dari tengahnya muncul sosok yang asing namun familiar — Sachera. Ia mengenakan jubah gelap yang bergulung seperti awan mendung yang ditarik ke bumi. Matanya bersinar ungu, dan di sekelilingnya beterbangan lembaran lusuh, penuh dengan goresan tak selesai.
“Selamat datang kembali... Tuan Coret,” ucap Sachera. Suaranya lembut, tapi mengandung luka. “Kau pikir dunia ini akan tetap mati hanya karena kau berhenti menulisnya?”
Muhammad menggenggam erat kunci pusaka dari Mbah Enju. Heirloom itu kini terasa hangat, seperti mengenali ancaman.
Sachera menunduk. Di sekelilingnya mulai muncul bayangan-bayangan coretan — tokoh-tokoh tak selesai dari draf-draf lama Muhammad:
Seorang prajurit tanpa wajah, dengan tubuh dari sketsa arang.
Seorang gadis kecil yang memeluk buku lusuh, isinya hanya satu kalimat berulang.
Naga yang separuh tubuhnya hanya garis kasar, matanya kosong namun menyala.
“Dunia ini... bukan kau yang hidupkan,” lanjut Sachera. “Kami ada karena kau pernah mencoret kami. Dan coretan itu tidak mati.”
Muhammad menggeleng. “Aku tidak tahu kalau mereka bisa jadi nyata…”
“Karena kau hanya menghapus. Tapi tidak pernah menyelesaikan.”
Tiba-tiba, salah satu bayangan menyerang. Si prajurit buram melesat dengan senjata tak berbentuk. Mutia berteriak, namun sebelum ia terkena, heirloom Mbah Enju menyala terang dan membentuk pelindung di udara. Pola-pola coretan emas terbentuk di sekeliling mereka — seperti lingkaran mantra dari lembaran mimpi yang tak pernah dibaca.
Heirloom itu bukan hanya kunci untuk membuka dunia ini. Ia adalah pengikat antara pencipta dan ciptaan, antara ide dan kenyataan.
Dalam gemuruh angin dan kertas, Muhammad mendengar suara samar. Suara yang terasa seperti milik Mbah Enju: