Putra Putri Salju
Ruang bawah tanah itu gelap dan senyap. Hanya suara detak jantung Mutia dan Muhammad yang terdengar ketika mereka meletakkan kunci pusaka warisan Mbah Enju di atas altar batu.
Tiba-tiba—klik!—lantai bergetar ringan. Ukiran-ukiran di dinding mulai menyala dengan cahaya biru keperakan, membentuk simbol dan kalimat asing yang perlahan terurai menjadi kata-kata.
“Heirloom dari Dunia Mystic Potlot. Gerbang Imajinasi dan Kenyataan.”
Muhammad terpaku.
“Ini… gila. Nama itu…”
“Mystic Potlot?” tanya Mutia.
Muhammad mengangguk pelan. “Itu dunia yang aku buat. Dunia yang aku tulis sejak kecil. Dunia fiksi.” Suara Muhammad bergetar. “Itu hanya ada dalam buku… dalam pikiranku.”
Namun dinding batu di hadapan mereka retak seperti kaca, lalu terbuka… seperti halaman buku yang terbelah. Di baliknya tampak langit jingga penuh simbol hidup, dan daratan aneh yang berkilauan seperti tinta basah.
Mereka terhisap masuk, dan dalam sekejap, dunia berubah.
Muhammad dan Mutia berdiri di tepi padang tak dikenal — tanah dari lembaran kulit, hutan dari bulu kuas, dan langit dari cahaya huruf. Burung-burung dari origami terbang rendah, sementara pohon-pohon berubah bentuk sesuai emosi mereka.
“Ini Mystic Potlot,” bisik Muhammad.
“Kau menciptakan ini?” “Sebagian. Tapi… ini seperti versi hidupnya. Aku tak pernah menulis semua ini.”
Dari kejauhan, muncullah sosok tinggi berjubah bayangan. Wajahnya tidak utuh, hanya terdiri dari potongan kata dan kalimat yang belum selesai.
“Selamat datang kembali, Penulis,” ujarnya. “Dunia ini telah menunggumu.”
“Tapi ini cuma khayalanku…”
“Tidak ada imajinasi yang benar-benar mati,” kata sang penjaga. “Semua yang kau tulis… membentuk sesuatu, di Dunia ini.”
Muhammad gemetar. Ia menciptakan tempat ini sebagai pelarian dari dunia nyata. Tapi sekarang, dunia itu hidup—dan tampaknya, tak semua isinya ramah.