Putra Putri Salju

Hujan belum reda sejak semalam. Langit Tsono kelabu seperti kain kafan basah, dan rumah keluarga Saleh dan Junaida terasa semakin sunyi dari biasanya. Aroma tanah basah bercampur kemenyan dari pekuburan di belakang rumah menyusup lewat celah-celah dinding kayu.

Di sinilah keluarga itu tinggal — tepat di tepi makam tua, tempat Mbah Enju dan nenek Ruaida dimakamkan berdampingan.

Pagi itu, Muhammad dan Mutia duduk di dapur sambil menatap peta kuno dari jurnal peninggalan Mbah Enju. Di sudutnya tertera goresan tangan halus:

"Gerbang berada di antara dua batu yang tak bernama. Tempat jiwa lama beristirahat, dan darah muda dituntun kembali."

Mutia perlahan menoleh ke arah jendela belakang. Pandangannya tertuju pada dua nisan tua tanpa nama di sudut pojok pekuburan — agak terpisah dari barisan makam lainnya. Ia sering memperhatikan keduanya waktu kecil, tapi tak pernah tahu milik siapa.

“Kak !!… kalau maksudnya dua batu tanpa nama itu… yang di situ?” bisik Mutia.

Muhammad bangkit, mengenakan jaket. “Kita lihat. Tapi hati-hati, ini tempat Mbah dan Mamak juga.”

Hujan menyisakan becek dan kabut tipis saat mereka menginjak pekarangan belakang. Suara kodok bersahut-sahutan. Muhammad dan Mutia berdiri di antara dua batu tua, yang permukaannya sudah aus dan berlumut. Akar pohon mangga menjulur di sekitar tanah.

Lalu, Muhammad merasakan sesuatu saat menjejak tanah di antaranya. Terasa berongga.

Dengan cangkul kecil dan hati-hati, mereka menggali. Tak lama kemudian, muncul penutup besi bundar, setengah terkubur. Di tengahnya ada lubang kunci kecil — pas dengan kunci hitam dari kotak peninggalan.

Saat kunci itu diputar, terdengar bunyi klik berat, dan penutup perlahan terangkat — membuka jalan ke bawah tanah. Uap lembap naik dari tangga batu spiral yang menurun gelap dan sunyi.

Di dinding dalam lubang itu, tampak ukiran samar:

"SALJU – Satu garis. Satu darah. Satu tujuan."

Mutia bergidik, bukan karena takut… tapi karena merasa mereka sedang dilihat. Seolah arwah Mbah Enju dan Nenek Ruwaida sedang mengawasi.

“Kita masuk?” tanya Mutia pelan.

“Kita bukan cuma anak-anak,” jawab Muhammad. “Kita pewaris.”

Dan ketika mereka mulai menuruni tangga batu di pekuburan itu, hujan turun lagi — lebih deras dari sebelumnya. Seolah bumi pun ikut membuka rahasianya.