Putra Putri Salju
Mutia tidak bisa tidur malam itu. Hujan turun deras di luar, mengetuk atap rumah seng tua mereka seperti denting-denting gelisah. Udara Tsono terasa lebih lembap dari biasanya, dan bayangan Mbah Enju — kakek yang telah lama wafat — seolah hidup kembali dalam kenangan.
Di atas meja, jurnal tua peninggalan beliau masih terbuka, basah sedikit terkena cipratan air yang merembes dari genteng. Halamannya terbuka di bagian yang dipenuhi pola melingkar dan lambang seperti bunga dengan tujuh kelopak.
Sementara itu, Muhammad terbangun lebih awal. Ia merasa ada yang aneh — seperti ada sesuatu di bawah bantalnya. Dan benar saja, ia menemukan sebuah surat. Kertasnya tua, tapi kering dan bersih. Tulisannya halus dan jelas:
“Muhammad, Mutia, Jika kalian membaca ini, maka hujan tak lagi turun sekadar membasahi tanah. Aku, Enju — kakek kalian — tak sempat menjelaskan segalanya semasa hidup. Tapi kini saatnya. Di bawah pohon mangga tua di belakang rumah, aku menyembunyikan kunci. Gali, dan temukan potongan pertama dari rahasia keluarga kita: Gerbang Salju.”
Muhammad terpaku. Ia mengenali tulisan itu — khas Mbah Enju, miring sedikit ke kiri dan huruf “g”-nya melengkung panjang. Tapi surat ini… muncul dari mana?
Saat hujan mulai mereda, Muhammad mengajak Mutia keluar lewat pintu dapur. Tanah becek, licin, dan harum tanah basah menguar dari bawah pohon mangga tua yang besar dan teduh — tempat mereka sering bermain semasa kecil.
Dengan cangkul kecil, mereka menggali pelan-pelan. Tak lama, terdengar suara "ting" logam mengenai logam.
Sebuah kotak besi kecil muncul, karatnya menempel di tanah liat. Lambang bunga tujuh kelopak terukir di permukaan tutupnya.
Di dalamnya mereka temukan:
“…Jika gerbang itu terbuka, darah kita akan terpanggil. Jangan datang sendiri. Jangan bawa rasa benci. Datang sebagai saudara. Dan ingat… yang basah bukan selalu lemah.”
Mutia memandang Muhammad.
“Gerbang Salju… masih nyata meski hujan menggantikan dingin.”
Muhammad mengangguk, “Dan kakek menyembunyikannya bukan tanpa alasan.”
Hari itu, mereka sepakat untuk merahasiakannya — setidaknya sampai mereka tahu kebenaran sesungguhnya. Bukan karena takut… tapi karena firasat mereka mengatakan: hujan yang turun malam ini bukan hujan biasa.