"Fantasi bukan pelarian, melainkan medan perang yang kau ciptakan sendiri."
— Putra Putri Salju

Di ujung Desa Tsono, berdiri sebuah rumah tua beratap seng. Setiap pagi, embun menggantung tenang di sela-sela seng dan kabut menyelimuti halaman. Di dalam rumah itu tinggal keluarga Salju — sebuah keluarga kecil yang menyimpan cerita besar.

Ayah mereka, Pak Udin, seorang petani yang tenang dan penuh perhatian. Ibu mereka, iBu Aida, wanita lembut yang senang membacakan cerita rakyat sambil menyulam di kursi goyang tua. Keduanya menjaga rumah dan anak-anak mereka seperti menjaga nyala lilin dalam badai.

Anak-anak mereka 4 bersaudara:

Namun, bayang-bayang masa lalu masih tinggal di rumah itu. Mbah Enju, sang kakek, telah lama wafat. Ia sosok bijak penuh rahasia, dan sebelum ajal menjemput, ia selalu berkata:

“Keluarga kalian bukan keluarga biasa. Kalian adalah garis Salju — darah yang dingin, tapi menyala saat waktunya tiba.”

Ruaida, sang nenek, lebih dahulu berpulang. Kini, kenangan tentang mereka hidup dalam doa dan cerita yang dituturkan setiap malam oleh Bu aida kepada Vidha sebelum tidur.

Suatu malam ketika angin utara berembus lebih dingin dari biasanya, Mutia dan Muhammad membuka kembali laci tua peninggalan Mbah Enju. Di dalamnya tersembunyi sebuah jurnal kecil dan selembar kain pembungkus kayu tipis bertuliskan aksara kuno.

“Untuk cucu-cucuku:
Jika embun tak lagi jatuh dan angin berhenti bernyanyi, maka waktumu telah tiba.
Warisan Salju akan menemukan kalian.”

Esok paginya, bunga di pekarangan membeku dalam sekejap. Muhammad dan Mutia saling berpandangan — mereka tahu itu bukan kebetulan. Itu adalah tanda.

Saat itu, kisah lama bangkit kembali dari embun dan bayang kabut. Putra dan Putri Salju — Muhammad, Mutia — mulai menapaki jejak yang telah lama disiapkan. Tak hanya warisan darah, tapi misi yang tertanam dalam nama dan takdir mereka: SALJU.