“Selamat pagi, nona!”
Tirai jendela kamarku terbuka, membuat wajahku dibanjiri cahaya mentari pagi. Aku langsung menutup paparan sinar yang mengenai mataku. Ah! Silau sekali! Aku mengedipkan mataku berkali-kali sebelum akhirnya membuka mata sepenuhnya. Seorang lelaki bertubuh tinggi dengan rambut keperakan berdiri di samping kasurku. Dia menaruh tangan kanannya di dada kirinya sambil menunduk, pose yang selalu dia lakukan saat membangunkanku. “Aku mau tidur lagi!” teriakku sambil menarik selimutku. Akan tetapi, lelaki itu dengan cepat menahan selimutku lebih dulu. Ck! Tenaganya besar sekali. Mau sekuat apapun aku menarik selimutku, jika lelaki itu sudah menahannya, selimut itu tidak akan bergerak.
“Ini sudah waktunya sarapan, nona. Saya akan membantu nona untuk bersiap,” ucap lelaki itu dengan lembut. Aku menatap wajahnya dengan malas. Mulutku semakin cemberut mengingat kali ini aku kembali gagal untuk pulang ke dunia asliku, ke Kota Linkon. Aku sudah muak berada di dunia kerajaan yang kejam ini! Dunia ini lebih kejam dari Linkon, bahkan monster-monsternya lebih kuat dan menyeramkan dari wanderer. Aku mendecakkan lidah lalu mengambil posisi duduk di tepi kasur.
“Lagi-lagi kekesalan adalah ekpresi pertama yang nona tunjukkan di pagi hari,” ucap lelaki itu sambil mendorong troli yang membawa baskom dan wewangian. “Saya tahu nona selalu merasa kesal, tetapi nona harus segera bersiap karena Acara Berburu diadakan hari ini.”
Aku melangkahkan kakiku dengan gontai ke arah meja rias dan duduk di kursi. Di hadapanku ada sebuah cermin besar yang memperlihatkan seorang wanita yang berusia sekitar 20 tahun. Wajahnya sangat mirip dengan wajahku di dunia asli, bahkan rambutnya pun sama. Setiap kali aku melihat pantulan wajahku, aku selalu bergumam. Apakah aku tidak bisa meninggalkan dunia ini? Di bawah cermin tersebut terdapat berbagai produk kecantikan dan wewangian badan yang wanginya semerbak minta ampun. Lelaki itu berdiri di belakangku sambil berkata, “Nona harus membasuh wajah Anda dulu.”
“Astaga, sudah kukatakan berkali-kali, Xavier, panggil aku dengan namaku!” ucapku dengan kesal. Aku berdiri lalu berjalan ke arah troli yang dibawa Xavier. Sekilas, aku melihat wajah lelaki itu lalu aku mulai membasuh wajahku.
“Mana ada pelayan yang memanggil nona yang dilayaninya dengan nama? Saya tidak bisa melakukan itu.” Xavier, dengan menggunakan baju ala butler, menundukkan badannya untuk memohon maaf.
Setelah membasuh wajahku, aku memijit dahiku. “Kau benar-benar tidak mengingat apapun? Bahkan tentangku?”
Xavier diam sejenak, mungkin karena dia tahu aku akan berganti baju. Setelah memakai pakaian berburu, aku kembali duduk di kursi yang menghadap cermin rias. “Sayang sekali, saya tidak mengerti apa yang nona maksud. Saya hanya pelayan di sini yang sudah bekerja sejak nona masih kecil,” jawab Xavier sambil menyisir rambut panjangku. Aku menghela napas. Sampai hari ini, aku masih tidak tahu bagaimana caraku pulang dan petunjukku satu-satunya di sini, butler Xavier, sama sekali tidak berguna. Dia terus menjawab hal yang sama setiap kali aku bertanya mengenai ingatannya.
Setelah selesai bersiap, aku melangkah keluar dari kamar lalu turun untuk sarapan.
Entah kenapa, tetapi aku merasa tidak enak sepanjang perjalanan menuju lokasi berburu. Kenapa raja di dunia ini harus repot-repot mengadakan perburuan ini? Aku semakin cemberut di dalam kereta kudaku. Xavier, duduk di hadapanku, lagi-lagi memasang wajah tidak peduli. Namun, yang unik darinya adalah kebiasaannya membawa pedang ke manapun dia pergi. Dia menggunakan sabuk khusus untuk menahan pedangnya di pinggangnya.
“Mau sehebat apapun kemampuan pedang saya, saya tetap akan kalah dengan kemampuan nona yang menggunakan senjata laras panjang,” ucap lelaki itu. Pandangannya menembus ke luar jendela. Kedua tangannya dilipat di dadanya. Postur tubuhnya sangat sempurna. Xavier yang di sini pun sangat mirip dengan Xavier yang kukenal di Linkon. Hatiku mulai terasa sesak. Walaupun mereka memiliki perawakan yang sama persis, mereka bukanlah orang yang sama, terbukti dari Xavier di sini yang hanya mengingat kehidupannya sebagai butler. Aku begitu merindukan sosok Xavier yang kukenal.
Aku mengabaikan perkataan Xavier. Dengan menggenggam senjata laras panjangku, aku memendam rasa sakit di hatiku. Aku ingin mendengarnya memanggil nama asliku. Aku ingin dia memelukku. Aku ingin bertemu dengannya lagi.
Tidak terasa kereta kudaku sudah tiba di lokasi perburuan. Tahun ini, raja mengadakan perburuan di salah satu hutan yang paling lebat di kerajaan ini. Pada saat mendengar lokasi berburuan dari Xavier dua minggu yang lalu, aku langsung menciut. Sepertinya raja di sini berusaha untuk memusnahkan semua keluarga bangsawan di kerajaannya dengan mengadakan perburuan di salah satu pusat monster di kerajaan ini.
Setelah turun dari kereta kuda, Xavier langsung membantuku untuk bersiap. “Nona Allura Edric, putri bungsu keluarga Duke Edric, dan pelayannya, Xavier!” seorang lelaki, mengenakan pakaian warna-warni, mengumumkan namaku dan Xavier saat kami berdua melewati gerbang menuju hutan menggunakan kuda. Saat mulai memasuki kawasan hutan, senjataku selalu siap sedia di sampingku. Xavier juga mulai fokus untuk berburu monster di hutan ini. Karena kami masih berada di dekat zona aman, aku segera melajukan kudaku untuk memasuki hutan lebih dalam.
Perburuan berjalan lancar. Setelah merasa monster di sekitar kami telah lenyap, aku menatap Xavier. Lelaki itu mengangguk, menandakan sudah waktunya kami kembali. Saat kami membalikkan arah kuda untuk keluar dari hutan, tiba-tiba terdengar monster yang mengaum dengan sangat keras. Xavier langsung mengarahkan kudanya di depanku dan tangannya menyuruhku untuk berhenti.
“Xa-Xavier, sumber suaranya itu dari—”