
Cahaya biru dari tangki raksasa Jakarta Aquarium memantul di wajah Tle dan Firstone, menciptakan atmosfer yang tenang namun magis. Siang itu, dunia seolah hanya milik berdua. Mereka berjalan beriringan, sesekali tertawa keras saat melihat ikan pari yang seolah sedang tersenyum ke arah kamera ponsel mereka.
"First, geser dikit! Cahayanya bagus di sini," seru Tle sambil mengarahkan kameranya. Firstone berpose jenaka, membuat Tle tak berhenti menekan tombol shutter.
Keseksian momen itu semakin terasa saat beberapa pengunjung lain menghampiri mereka, meminta tolong untuk difotokan. Dengan ramah, Tle dan Firstone bergantian membantu, bahkan sempat bercanda dengan anak kecil yang terpukau melihat hiu di balik kaca. Mereka benar-benar hanyut dalam euforia, sampai tak menyadari ponsel di saku masing-masing bergetar tanpa henti. Ribuan notifikasi dari aplikasi X membanjiri layar mereka.
Ketegangan dimulai saat mereka memutuskan untuk duduk sebentar di area yang lebih tenang, menyaksikan ikan-ikan besar berenang dengan anggun. Tle merogoh sakunya, berniat melihat hasil foto tadi, namun matanya langsung tertuju pada deretan tag yang memenuhi layar.
Seketika, suasana mencair itu membeku.
Tle membaca baris demi baris kata yang tertulis di sebuah foto surat yang viral. Itu tulisan tangan Firstone. Sebuah surat yang berisi pengakuan perasaan yang selama ini terpendam, yang seharusnya tidak untuk dikonsumsi publik, namun berakhir di linimasa.
Tle menoleh, menatap Firstone dengan pandangan menuntut penjelasan. Firstone yang juga baru menyadari apa yang terjadi, mendadak pucat. Tubuhnya gemetar. Ia merasa seperti ditelanjangi di depan umum.
"First...?" suara Tle berat. Firstone tidak menjawab. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Tanpa kata, ia menutup ponselnya kasar dan berdiri, hendak melarikan diri dari tatapan Tle. Namun, sebelum ia sempat melangkah jauh, tangan Tle sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
Tle ikut berdiri, menarik lembut namun tegas pergelangan tangan Firstone menuju sudut yang lebih sepi, tepat di depan akuarium berisi ubur-ubur yang berpijar cantik dalam kegelapan.
"First, liat gue," bisik Tle lembut.
Firstone masih menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Tangan Tle terulur, dengan perlahan mengangkat dagu Firstone agar mata mereka bertemu. Detik itu juga, pertahanan Firstone runtuh. Air mata jatuh membasahi pipinya.
Ia merasa malu dan takut karena surat yang berisi kegalauannya, tentang bagaimana ia menggantung pernyataan cinta Tle yang kini diketahui semua orang. Ia takut Tle akan menganggapnya plin-plan dan pergi meninggalkannya.
Namun, belum sempat satu kata pun keluar dari bibir Firstone, Tle sudah menariknya ke dalam pelukan yang hangat dan erat. Tle mengusap punggung Firstone yang bergetar karena isak tangis yang pecah. Firstone menenggelamkan wajahnya di bahu lebar Tle, menangis sejadi-jadinya.
"Maaf... Tle... maafin gue..." ucap Firstone terisak pilu. "Gue cinta sama lo... maaf kalau gue egois... tapi gue takut... kehilangan lo..."
Tle memejamkan mata, mempererat pelukannya. Ia tahu trauma Firstone. Ia tahu betapa hancurnya Firstone saat orang tuanya bercerai, yang membuatnya takut akan kehilangan lagi. Selama ini, Tle mengira Firstone hanya menganggapnya sahabat tidak lebih. Mendengar pengakuan itu secara langsung membuat hati Tle membuncah.
"Makasih, First. Makasih udah jujur," bisik Tle dengan senyum tulus yang tak terlihat oleh Firstone.
Setelah badai air mata itu mereda, suasana berubah menjadi canggung namun manis. Mereka berjalan menuju parkiran dengan tangan yang saling bertautan erat, seolah jika dilepas, salah satu dari mereka akan hilang.
Bahkan setelah berada di dalam mobil, mesin belum juga dinyalakan. Keheningan menyelimuti kabin, namun bukan keheningan yang menyesakkan. Tle masih menggenggam tangan Firstone, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan halus itu, memberikan ketenangan yang selama ini dicari oleh sang kekasih. Keduanya hanya menatap sembarang arah asal tak saling pandang satu sama lain.