play this:
https://open.spotify.com/track/273QnyCvJB65rScHJ1nPZb
Langit pagi itu tidak begitu cerah, seolah-olah alam pun paham akan dirinya yang sedang berduka. Awan menggantung rendah, membiarkan cahaya matahari jatuh lembut tanpa benar-benar menghangatkan apa pun. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga yang mulai layu di sekeliling pemakaman. Di tempat itu, waktu terasa berjalan lebih lambat, seakan setiap detik diberi ruang untuk dirasakan sepenuhnya.
Ohyul berdiri di hadapan nisan itu, diam, dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak lagi mencoba menahan apa pun. Tidak ada lagi penolakan, tidak ada lagi amarah yang bergejolak, tidak ada lagi tawar-menawar yang sia-sia. Yang tersisa hanyalah kenyataan yang akhirnya ia genggam, meski terasa pahit dan tajam di dalam dada. Nama itu terukir jelas di hadapannya, nama yang dulu ia panggil setiap hari, kini hanya menjadi tulisan yang tak akan pernah menjawab.
Ia menarik napas perlahan, tetapi udara terasa berat, seolah setiap helaan harus melewati sesuatu yang mengganjal di dadanya. Matanya menatap lama, mencoba memahami bahwa ini adalah satu-satunya tempat yang bisa ia datangi untuk menemui Ryul, kekasihnya. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi berharap Ryul akan pulang. Ia hanya berharap Ryul tenang.
“Aku datang,” suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang takut memecah keheningan. “Maaf baru sekarang.”
Angin bergerak sedikit lebih kencang, menggoyangkan dedaunan di sekitar, menciptakan suara lirih yang terdengar seperti jawaban yang tak terdengar jelas. Ohyul tersenyum tipis karena pada akhirnya ia bisa menerima bahwa tidak semua hal membutuhkan balasan.
Ia berlutut perlahan di depan makam itu, jemarinya menyentuh tanah yang terasa sedikit lembab. Ada jeda panjang sebelum akhirnya air matanya jatuh. Tangisan itu bukan lagi tangis yang meledak-ledak seperti sebelumnya, melainkan sesuatu yang lebih sunyi, layaknya luka yang akhirnya dibiarkan terbuka tanpa ditutup paksa.
“I thought if I loved you enough, you would stay.”
Suaranya pecah di akhir kalimat, namun ia tidak mencoba memperbaikinya. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Tidak ada lagi yang perlu ditahan.
Hujan mulai turun perlahan, rintiknya kecil, hampir tak terasa, seperti langit yang ikut menahan tangis. Tetesannya jatuh di tanah, di batu nisan, dan di wajah Ohyul yang kini basah oleh air mata yang tak lagi ia bendung. Dunia terasa begitu sunyi, seolah sedang memberikan ruang bagi dirinya dan Ryul di tempat itu.