https://open.spotify.com/track/6PqWdGIYq5xdLaa4zCZfRp?si=3bb1961d53af4406

Kamanggih, 25 April 2026

Banyak yang bilang kalau Kalum akan tumbuh menjadi laki-laki yang mengerti. Kedua orang tua Kalum mengajarkannya cara berterima kasih untuk semua yang dimilikinya, mereka mengajarkan Kalum untuk ‘nggak mengutuk dunia apabila jalannya buntu, juga mengajarkan Kalum untuk mengerti: mengertilah bahwa dunia ‘nggak akan memberikan jalan buntu kepada kita yang senantiasa berterima kasih atas semua yang kita miliki.

Sejak bangku sekolah, Kalum paham jika to-do list yang tertempel di dinding kamar ‘nggak akan berarti apa-apa bila semesta sudah mencoretnya lebih dahulu. Buktinya, kedua orang tua Kalum— 15 tahun menikah— tetap berakhir dengan surat perceraian. Kalum ‘nggak pernah menyalahkan Ibu dan Papanya, dia juga ‘nggak menyalahkan om Anton. Kalum tahu, Ibu dan Papanya hanya ingin bahagia. Cinta ‘nggak akan berarti jika kita memaksakannya, ‘kan?

Perceraian itu ‘nggak menimbulkan luka apapun pada diri Kalum, tapi menimbulkan satu pertanyaan: kenapa saat itu orang tuanya lebih memilih untuk terus berpura-pura dalam hubungan yang sudah mati, daripada jujur untuk mengakhirinya lebih awal?

Ya… sudahlah. ‘Toh, 13 tahun sudah berlalu dan Kalum masih bisa menjalani hari, yang lebih penting saat ini adalah Gisel.

Hari ini seperti ada sesuatu dalam diri Gisel, karena perempuan dengan rambut menjuntai sampai bahu itu terus saja tertawa. ‘Nggak selebay itu, sih, tapi Gisel terlihat berbeda.

Pagi tadi saat Kalum baru saja selesai mandi ia mendengar teriakan dari arah dapur: “MIK! INI TELOR APA BATU BATA, ANJING! DONGO BANGET!”

Mikael kemarin malam kalah main UNO dan harus masak sarapan untuk tim di pagi hari, maka ketika Naomi buka tudung saji dan melihat sarapannya pagi ini berwarna hitam di situlah dunia kiamat.

“Eh, ‘nggak semua orang seberuntung kita bisa sarapan, Nom. Lo, tuh, harus belajar bersyukur,” jawab Mikael dengan tangan terlipat di depan dada dan kepala yang digeleng-gelengkan— ‘nggak menyangka Naomi senggak bersyukur itu.

“Ini dikasi ke sapi depan juga mereka ‘nggak mau,” bantah Naomi.

Kalum hari ini merasa ada yang salah dengan Gisel, karena Gisel baru saja tertawa. Di pagi hari, Gisel sudah tertawa, bahkan rambutnya masih berantakan ditambah handuk yang menggantung di tangan kanan. Gisel bukan morning person dan Gisel jelas bukan orang yang bisa dibuat tertawa dengan jokes telur berwarna hitam ini.

“Tapi menurut gue lo hebat, Mik. Sejelek-jeleknya telur dadar, ‘nggak ada yang sejelek ini,” celutuk Gisel sambil menepuk pundak Mikael, masih disertai tawanya. Mikael hanya membalas dengan umpatan dan Naomi kembali menggerang: doa sarapan enak pupus sudah.

Kalum merasa hari ini akan menjadi hari teraneh sedunia.

Candaan dan gelak tawa Gisel di pagi hari memang cukup membuat Kalum menganggap Gisel aneh, tapi kejadian siang ini semakin membuat Kalum— dan yang lain— melihat Gisel dengan seribu tanda tanya.

"HAHAHAAAA! Terus gimana, Ma? Jadi babi yang lepas itu beneran masuk ke dalam gereja pas lagi latihan paduan suara?" Gisel terbahak lagi, sampai bahunya berguncang hebat.

Gisel duduk bersimpuh di atas tikar bambu, berhadapan langsung dengan Mama Merry—salah satu warga desa yang baru saja datang mengantarkan rantang besar berisi nasi, daging, dan sayur-sayuran. Mama Merry datang karena keluarganya sedang ada acara syukuran di kampung sebelah, jadi mereka sekalian berbagi berkat untuk tim peneliti.

Mama tertawa malu-malu, memperlihatkan gigi-giginya yang kemerahan karena sirih pinang. "Iya, Nona! Itu jemaat semua lari keluar, tapi babi itu malah duduk tenang di depan altar kayak mau ikut menyanyi!"

Gisel tertawa semakin keras, tangannya refleks menepuk lantai kayu rumah panggung itu. "Aduh, Mama! Harusnya difoto, itu babinya pasti mau minta diberkati biar ‘nggak jadi daging asap!"

Mikael yang sedang asik mengunyah daging sampai berhenti mengunyah, matanya melotot menatap Gisel. Naomi yang biasanya paling berisik pun cuma bisa memegang sendoknya dengan kaku. Mereka berdua saling lirik, lalu beralih menatap Ashton yang juga tampak bingung sambil pura-pura sibuk merapikan tumpukan kuesioner.