https://open.spotify.com/track/7J0isBrUxhIYZVdrBOOlIh?si=a5b5ef95ff9c4468
Kamanggih, 19 April 2026
Gisel menjalani 19 April dengan berbagai emosi, mulai dari lelah, heran, sampai tawa. Begitu banyak yang terjadi hari ini, tetapi Gisel yakin yang satu ini akan membekas… di giginya.
Hari pertama di Kamanggih tidak dimulai dengan clipboard, timbangan, atau tabel data seperti yang dibayangkan Gisel selama ini. Justru, langkah pertama mereka adalah duduk melingkar di nduma luri, ruang tamu rumah adat Kepala Desa, dengan tatapan para tetua yang tenang namun penuh makna.
Sirih dan pinang disuguhkan.
Gisel sempat menahan napas sejenak sebelum menerimanya. Ia tahu ini bukan sekadar suguhan, ini adalah gerbang dan dengan memakan ini maka ia telah masuk. Gisel coba untuk menggigitnya perlahan, berusaha menjaga ekspresi tetap netral meski rasa sepat dan getir langsung menyelimuti lidahnya, menempel hingga ke gigi.
Di sudut matanya, Gisel bisa melihat Naomi yang juga sama mencoba untuk ‘nggak terlihat kurang ajar sekalian mencoba untuk ‘nggak muntah. Bule abal-abal itu— maksudnya Naomi— mana sanggup disuruh makan yang kayak gini, melihat jahe saja rasanya perempuan itu bisa pingsan. Aneh juga, sih, kenapa Naomi bisa mengambil profesi perawat yang notabenenya berdampingan dengan konsep hidup sehat.
Di samping kirinyanya, mata Gisel mendapati Kalum tampak jauh lebih santai. Ia bahkan sudah terlibat percakapan ringan dengan salah satu tetua, tertawa kecil, sesekali mengangguk penuh hormat. Masih dengan sirih pinang dalam mulutnya.
Berarti orang sosiologi harus bisa sok asik. Gisel mencatat hal itu di pikirannya.
Bukan berarti Kalum sok asik, sih, it’s a good thing kok. Jadi Gisel ‘nggak perlu ribet-ribet berpura-pura memandu pembicaraan.
Di sebelah kanannya ada Ashton mencoba mengikuti alur, lebih banyak mengamati daripada bicara. Begitu juga dengan Mikael, terlalu tenang untuk orang yang sempat ngomel-ngomel ingin membawa PS5 ke sini.
Gisel berharap senyum tipisnya cukup meyakinkan bahwa ia menghargai tradisi ini, meski dalam hati ia memikirkan satu hal: kumur-kumur, lah, gue habis ini.
Percakapan di rumah Kepala Desa, Umbu Djara, telah berlalu. Kini seluruh tim peneliti sibuk membongkar barangnya satu per satu, sambil menunggu giliran mandi. Iya, kamar mandinya cuma satu dan Naomi mungkin telah masuk kamar mandi dari 1 jam yang lalu.
Dinding kayu, lantai semen kasar, dan satu stopkontak yang langsung jadi pusat perhatian saat mereka pertama kali sadar bahwa mereka akan dan harus tinggal di sini selama 5 bulan lebih lamanya, tapi untuk Ashton, hal ini akan berlalu karena he’s seen worse. Mikael juga hanya mendengus melihat satu stopkontak. Itu sebenarnya susah untuk ‘nggak dipermasalahkan, karena yakinlah tiap orang dari tim mungkin membawa lebih dari 2 alat elektronik.
“WOI! Sempet-sempetnya lo ngeringin rambut pake hairdryer?!” Gisel memekik frustrasi pada Naomi yang baru menyelesaikan mandi kembangnya.
Orang gila mana yang tinggal di rumah kayu tanpa pendingin ruangan dan di luar bertebaran sapi serta kambing, tapi masih ingat untuk mengeringkan rambut dengan hairdryer.
“Kenapa, sih, Sel? Not a really big deal for others. See?” Naomi mencoba untuk meyakinkan Gisel bahwa ‘nggak akan terjadi apa-apa, tapi Naomi adalah orang terakhir yang ucapannya akan Gisel percayai, karena setelah itu lampu seisi rumah mati total.
“Di sini listrik tidak sekuat di Kota, Kaka,” ucap warga yang Kalum panggil untuk menanyakan mengenai listrik rumah mereka yang mati. “Mungkin besok hidupnya.”