https://open.spotify.com/track/0ejpHFKbEqTcNQ4OMBawrP?si=2f4e6f93450643dc
Kamanggih, 24 April 2026
“Indonesia udah global warming beneran menurut gue.”
Hari ini, lagi-lagi, Kamanggih sedang ‘nggak baik-baik saja. Jika kemarin mereka dapat cepat pulang dan berteduh di balik rumah hunian karena ‘nggak ada data yang bisa diambil, sekarang datanya ada dan mereka mau ‘nggak mau harus menahan tusukan-tusukan sinar matahari.
Mikael telah menghabiskan seribu tissue milik Naomi dan Naomi sudah cukup lelah untuk menegur Mikael, ‘nggak ada gunanya juga karena Mikael akan mengambil tissue itu diam-diam dari tas ataupun kantong celana Naomi.
“Ya, emang udah,” bantah Ashton kepada celotehan Mikael.
Bantahan itu dibalas dengan dengusan, “Gimana mau maju peradaban Indonesia kalo global warming.”
“Sampah tissue lo, noh, bikin global warming!” Naomi menimpali sambil menunjuk ke arah tangan Mikael yang penuh dengan lembaran-lembaran tissue: ada yang masih utuh hanya basah, ada juga yang sudah sisa-sisa sobekan karena kerap kali digunakan untuk menggeser peluh di jidat Mikael.
Tim peneliti kali ini baru saja pulang dari observasi sanitasi dan lingkungan, lebih tepatnya akses air bersih bagi penduduk desa. ‘Nggak ada yang bilang mata air di desa ini cukup jauh dan harus menempuh jalan yang berliku-liku dan menanjak, mereka bahkan harus menepi di setengah perjalanan karena kaget, dan capek juga, sih.
Berjuta rengekan, beratus-ratu keluhan, dan lima kali kepleset— Mikael tiga kali dan Naomi dua kali— serta beratus juta fakta-fakta mengenai Sumba dari Ashton yang ditimpali oleh Kalum menemani langkah mereka.
Gisel, semenjak tahu kalau ia harus bergerak lebih dari 5.000 langkah hari ini, diam dan hanya terus berusaha untuk mengingatkan dirinya bahwa semua demi kesetaraan dan pengabdian. Namun, apa boleh buat, Indonesia panas gila!!!!
Ketika sampai, mereka segera melakukan seluruh tugas yang sudah dibagikan sejak tadi malam tanpa bertanya, tanpa protes, tanpa banyak bicara lagi, mungkin semua sudah di titik akhir nyawa mereka. Iya, segitu jauhnya perjalanan— pendakian mereka dan sialnya jalur ini ‘nggak bisa dilewati kendaraan apapun.
Maka, ketika seluruh checklist dan seluruh kuesioner sudah terpenuhi, Ashton langsung menghampiri Gisel dan bertanya, “Udah cukup, ‘kan, Sel?”
Gisel membalas dengan senyum penuh lega, “Udah, Mas. Lebih dari cukup kok ini.” Dan dilanjuti dengan Ashton memberikan komando untuk segera kembali. Tidak ada yang ingin berlama-lama di sana; pikiran mereka sudah kompak membayangkan dinginnya air dan empuknya tikar di rumah.
Namun, di tengah perjalanan pulang yang melelahkan itu, mereka harus melewati Air Terjun Kamanggih. Suara gemuruh air dan hawanya yang sejuk mendadak menjadi godaan iman yang luar biasa.
Terutama bagi Mikael. “Gimana menurut lo semua kalo gue nyebur saat ini juga?”
“Please dont, Mik! Gue ‘nggak mau harus nungguin lo mandi di sini!” Naomi menggerutu, masih dengan wajah lelahnya.
Di bawah air terjun itu ada anak-anak— delapan orang totalnya— sedang bermain air bersama, gelak tawanya mengisi alam, hampir menembus rerumputan yang bergoyang. Melihat itu, Mikael menyengir dan membalas Naomi, “Emang siapa yang bilang lo harus nungguin gue mandi di sini?”
“Oke, fine! Kalo lo mau diting—” Naomi belum sempat menyelesaikan omongannya, Mikael sudah melaksanakan aksinya.
“ANJING!!!!!!!!!!!”
Yang barusan adalah teriakan terakhir Naomi dengan baju keringnya, karena sekarang ia dan Mikael sudah berada di dalam air. Iya, Mikael baru saja melompat ke dasar air terjun sambil menarik tangan kanan Naomi— untungnya, sih, Naomi sedang ‘nggak membawa logistik ataupun hasil observasi tadi, mungkin juga Mikael sadar akan hal itu maka ia memilih Naomi sebagai targetnya.
“Lo adalah orang teranjing! I swear to God, Mikael!!!!! Poni gueeee!” Rengekan suara Naomi membuat Mikael tertawa terbahak-bahak, “Enak, ‘kan? Seger, deh! Biar lo berhenti ngomel.”
Di atas— masih dengan baju yang kering— Ashton dan Kalum memberikan tawa lepasnya. Seperti mereka sudah hapal dengan kelakuan Mikael, sementara Gisel menutup mulutnya penuh kaget— sekalian menyembunyikan tawa juga, sih.
“Mas, kayaknya kita perlu, nih, meneliti sumber mata air dari air terjun ini,” ucap Kalum kepada Ashton setelah melihat Naomi dan Mikael saling mencipratkan air.
“Apa yang mau diambil dari air terjun coba?” balas Ashton skeptis.
“Ada lah, Mas,” goda Kalum sambil mulai melepas jam tangannya. “Ini contohnya.”
Tanpa menunggu jawaban Ashton, Kalum berlari kecil dan melompat ke air dengan gaya cannonball yang sukses menciptakan cipratan besar, membasahi Mikael dan Naomi, serta sedikit kena sepatu Gisel dan rompi tim Ashton.
“Malu sama umur lo, Lum!” balas Ashton sambil meletakkan tas kameranya di atas batu besar yang kering, kemudian memilih masuk perlahan ke dalam air yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa.
Terhitung sudah selama 3 menit bocah-bocah umur 29 tahun itu bermain di dalam air, sesekali melompat dari bebatuan untuk menciptakan percikan besar. Sementara Gisel masih berdiri memperhatikan rekan kerjanya bermain.
Sejujurnya Gisel bukan orang yang suka bermain air, terlebih dengan menggunakan baju biasa dan dengan fakta bahwa dia ‘nggak bawa baju ganti. Bikin repot aja menurutnya.
Sejujurnya juga Gisel memang bukan orang yang suka having fun ‘kan? She’s kind of a boring person, we all know that.
Tiba-tiba, suara tawa melengking memecah fokus Gisel. Dari arah hulu, muncul sekitar delapan anak desa setempat— anak-anak kecil yang dilihat Mikael tadi— kulitnya tampak begitu akrab dengan matahari Sumba. Mereka berlarian di atas bebatuan licin dengan kaki telanjang, seolah hukum gravitasi tidak berlaku bagi mereka.
“Kaka! Kaka! Orang sini jugakah? Kami tidak pernah lihat,” tanya salah satu dari mereka setelah berada di lingkaran pemandian tim peneliti.
“Bukan, kita dari Jakarta! Di sini mau belajar dan bermain,” balas Kalum penuh semangat. “Boleh kita ikut main air di sini? Air terjun Kamanggih bagus sekali!”
“Boleh dong, Kaka! Air terjun ini punya kita semua!”
Dengan berakhirnya percakapan itu, maka terbentuklah alasan baru untuk mereka berlama-lama di air terjun Kamanggih ini. Meskipun mereka baru saja bertemu dan belum saling mengenal nama, interaksi itu mengalir begitu alami. Kalum dan Ashton segera berbaur, sementara Mikael yang nyawa sisa satu akibat pendakian terjal tadi, mendadak menemukan energi cadangan untuk ikut dalam kegaduhan tersebut.
“Bener-bener bocah,” bisik Gisel pada dirinya. Kali ini ‘nggak ada kesarkasan dalam suara itu, ‘nggak ada nada jengkel juga, hanya ada keheranan penuh geli; bagaimana bisa sudah hampir berkepala tiga tapi bermain di air terjun dengan anak SD. Ia menyandarkan bahunya pada batu besar, memandangi keriuhan di depannya seolah sedang menonton sebuah film komedi.
Ya, gimana ‘nggak komedi. Dari tadi Naomi dan dua bocah— yang bernama Matius dan Yakob, kalau ‘nggak salah— terus-terusan mencipratkan air ke arah wajah Ashton dan Ashton terus-terusan meminta mereka untuk berhenti, bahkan Yakob membawa ember untuk menyirami Ashton. Semuanya terus berlangsung hingga Ashton menarik tangan Naomi, membuat Matius dan Yakob terbirit-birit untuk menghindar dari tarikan Ashton.
Sementara di sisi lain, enam bocah lainnya sedang bersama Mikael dan Kalum. Ini bener-bener absurd: mereka berkompetisi untuk melihat siapa yang paling jago menahan nafas di dalam air. Kerap kali Mikael protes karena anak-anak itu terus mengerjainya dengan ‘nggak memasukkan kepala ke dalam air dan membiarkan dia berkompetisi sendiri. Kalum banyak tertawa melihat Mikael kalah dengan anak umur 10 tahun.
Tawa mengitari seluruh alam di sekitar air terjun Kamanggih siang ini. Rasanya benar-benar hangat. Gisel akui, dirinya merasa lebih ringan, seperti ‘nggak ada hari esok yang akan menyambutnya dengan kelelahan.
Saat dalam sesi melamunnya, tiba-tiba Gisel mendengar teriakan Kalum dari dalam air, “Gisel! Lagi jadi penonton bayaran apa gimana? Sini dong!”
Gisel hanya membalas dengan lambaian tangan malas. Ia merasa cukup puas menjadi orang ‘nggak asik yang berdiri di pinggir dengan baju tetap kering. Baginya, 5.000 langkah hari ini sudah lebih dari cukup untuk satu hari pengabdian.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik. Yakob, yang sedari tadi membawa ember—niatnya ingin menyerang Ashton dari atas bebatuan— tiba-tiba terpeleset. Lumut sialan.
BYUR!
Satu ember air sukses mendarat telak di punggung Gisel, membasahi kemeja dan rambut panjangnya hingga lepek seketika. Semua terasa begitu cepat, bahkan Gisel ‘nggak sempat untuk berteriak.
“Ka… Kaka… saya—”
Suasana mendadak hening. Mikael, Kalum, Ashton, dan Naomi mematung di tengah air terjun. Yakob sebagai tersangka berdiri gemetar di samping Gisel.
“Kita bakal mati, ya, Mas?” tanya Mikael berbisik di telinga Ashton.
“Pake nanya,” jawab Ashton dengan raut khawatir.
Kalum mencoba untuk menghampiri Gisel; naik ke daratan, namun langkahnya terhenti saat melihat bahu Gisel yang basah kuyup itu mulai bergetar. Kalum sudah bersiap dengan sejuta kalimat permintaan maaf mewakili Yakob, sampai akhirnya suara tawa yang sangat asing di telinga mereka pecah begitu saja.
Gisel tidak meledak marah. Ia justru tertawa lepas sambil mengusap wajahnya yang basah, menoleh ke arah Yakob yang masih mematung ketakutan. “HAHAHAA!!! Gue basah kuyup!”
Mikael benar-benar ketakutan melihat Gisel, “Ini boleh ikut ketawa ‘nggak, sih, Mas?” tanyanya kembali kepada Ashton. Karena ‘kan Gisel seharusnya… ya, menjadi Gisel: marah, kesal, emosi, jengkel, ngomel, dan meledak-ledak.
“Kalo yang ini gue juga ‘nggak yakin, Mik. Horor, sih, tapi….” Ashton masih memberikan raut khawatir ke arah Gisel, tapi kali ini dibersamai dengan ketakutan.
Gisel membungkuk dengan gerakan cepat. Ia menyambar ember plastik yang tadi dijatuhkan Yakob—ternyata masih menyisakan air cukup banyak di dasarnya— dan tanpa peringatan, ia menyiramkan sisa air itu ke arah kerumunan rekan penelitiannya.
Dan tertawa lagi. Tawa Gisel kali ini benar-benar penuh rasa bahagia, “Ekspresi lo semua jelek banget, anjir!” Dan jarinya yang menunjuk seluruh rekan kerjanya yang masih mematung itu.
Bagi Mikael dan Naomi, melihat Gisel yang biasanya perfeksionis dan membosankan itu tertawa sampai terpingkal-pingkal jauh lebih mengejutkan daripada siraman air Yakob tadi.
Bagi Ashton, melihat Gisel meruntuhkan sedikit kekakuannya menandakan bahwa Gisel hanya perlu sedikit dorongan untuk menunjukkan warna sesungguhnya.
Bagi Kalum, Gisel cantik. Banget.
Maka, siang itu meski dengan matahari Sumba yang masih menyengat, tapi tim peneliti melaluinya dengan hati yang terasa lebih penuh; penuh oleh tawa yang pecah, cerita yang baru saja terukir, dan sebuah rasa yang mulai tumbuh diam-diam. Ketakutan Yakob pun menguap, berganti dengan sorak-sorai saat Gisel akhirnya meruntuhkan ego dan melompat masuk ke dalam dinginnya air terjun.
30 menit berlalu, satu per satu dari mereka mulai naik ke daratan, mencoba mengeringkan badan dengan handuk seadanya sambil bersiap untuk kembali ke rumah panggung. Gisel sedang sibuk memasukkan clipboard dan pulpennya ke dalam tas ketika langkahnya terhenti oleh sebuah celetukan dari arah belakang.
“Kok mau basah-basahan gini?”
Itu suara Kalum. Saat Gisel menengok, Kalum tengah tersenyum— sedikit meledek.
“Ya, gapapa lah. Sesekali,” jawab Gisel yang juga membalas senyum— ledekan Kalum.
“Seru ‘kan hari ini?” lagi, Kalum bertanya sambil menggulung lengan baju naik hingga ke bisepnya.
Gisel memberikan Kalum senyum puas, “Seru. Itu juga karena gue suka anak-anak.”
Kalum baru saja ingin menyambar Gisel yang telah memberikannya fakta baru, sebelum akhirnya suara menggema terdengar dari depan mereka.
"Eh, HP siapa nih? Nyala terus dari tadi," ucap suara itu.
WhatsApp - Mams:
Kakak… gimana di sana?
Lukas udh ke rumah beberapa hari lalu… Kak..
Mams dan paps udh paham,, Gpp ya.. Kakak…
Pernikahan yang ini gagal dulu… Kalo memang Lukas jawabannya,, Tuhan pertemukan kalian lagi…
Mams paps love you Kakak….