Jakarta, 16 April 2026
https://open.spotify.com/track/3yCHUAXpNRPjVSzjplvhGb?si=d84c763cfa834a8a
“Baik, menurut saya ini sudah final. Kita bisa akhiri pertemuan hari ini. Terima kasih.” Kalimat itu sudah terucap sejak 2 menit yang lalu, tapi Gisel masih termenung di tempat duduknya dengan laptop yang gelap menandakan belum ada pergerakan dari sang empunya sedari tadi.
Rapat penugasan ke Sumba Timur untuk penelitian dari Kementerian Kesehatan baru saja terselesaikan. 5 bulan lebih 2 minggu, segitu lamanya penelitian ini akan berlangsung dan Gisel menjadi salah satu perwakilan nutritionist yang akan turun sebagai Project Leader. Gisel ‘nggak takut dengan titel leader yang disandangnya selama penelitian, dia lebih takut dengan… jujur saja, siapa yang pernah ke Sumba Timur? Jelas bukan Gisel.
“Lagian Sumba Timur itu di mana, deh?”
Oke, cap dirinya bodoh, karena memang geografi bukanlah mata pelajaran terbaiknya saat SMA— bahkan dirinya hanya pernah mendapatkan geografi saat kelas 10.
“Ya, di Sumba Timurlah,” jawab Sarah, seolah-olah itu adalah informasi yang akan berguna untuk keberlangsungan hidup Gisel kedepannya. “Aman aja, Sel. Lu kan ‘nggak sendiri. Lima orang mah rame.”
“Ya udah lu aja,” oper Gisel dengan wajah yang ditekuknya.
Sarah memundurkan kursi berodanya satu kali sambil terkekeh kecil.“Et, ‘nggak baik tau, Sel, ngambil kesempatan orang.” Gisel tau ini cara Sarah menolak. Ya, mana mungkin orang dengan tulisan “Anak Ibu Kota” di jidatnya mau-mauan diberi kerjaan ke Sumba Timur, mungkin baru sehari Sarah udah merengek minta pulang karena dirinya ‘nggak bisa beli deep roast oolong milk tea with soya bean curd kecintaannya itu.
Gisel juga, sih, sebenarnya butuh butterscotch sea salt latte untuk menemaninya mengolah data, tapi apa boleh buat, Bu Sinta telah bersabda bahwa dirinya harus berangkat dalam 3 hari.
“ADUH!” Jawaban Sarah tadi membangkitkan (sedikit) rasa jengkel hingga Gisel ‘nggak tahan untuk ‘nggak menoyor jidat penuh poni milik Sarah. “Sensian banget, sih! Dasar cewek!” Sarah mengembalikan posisi kursi kerjanya agar menjauhi Gisel.
Ting!
Notifikasi email. Sontak Gisel dan Sarah sama-sama melihat ke arah suara; laptop terbengkalai milik Gisel.
Halo Kak Gisel Anjani Saskara,
Kami sudah menerima kabar terkait pembatalan acara pernikahan Kakak di tanggal 26 April 2026. Kami turut memahami bahwa situasi ini pas-
Oh….
Belum sempat Gisel membaca keseluruhan notifikasi dari fotografer yang disewanya itu, Sarah dengan cepat menutup kencang laptop Gisel.
“Woi! Laptop gue!” teriak Gisel.
“What! Udah jam 1? Turun, yuk! Lama-lama laper juga,” ajak Sarah dengan gerak-gerik gelisahnya.
Gisel tau semua orang— mungkin ‘nggak semua juga, sih, tapi orang-orang yang tau mengenai pernikahannya yang batal sedang menunjukkan rasa kasihan kepadanya. Mulai dari orang tuanya yang kini selalu menghubungi untuk sekadar menanyakan kabar, sampai Sarah yang dulunya menolak keras untuk makan sushi, kini rela mengotori perutnya dengan ikan mentah demi menemani Gisel bengong di meja Sushi Tei.