Umemiya memang sudah memutuskan, dia akan menemui psikiater nanti, dia akan mencoba untuk melawan rasa takutnya sendiri. Begitu pulang ke rumah bersama para alpha yang hendak menjemput pasangannya masing-masing, Umemiya merasa santai dan pikirannya tidak terbebani apapun.
“Sugi juga ke sini?” tanya Hiiragi.
Yang lainnya juga segera menatap pemuda jangkung berambut panjang yang ternyata mengekori mereka ke rumah Umemiya. "Iya."
Awalnya tidak terpikirkan, tapi begitu semua *omega* sudah keluar dari rumah Umemiya dan hendak pulang, ternyata Kotoha menghampiri Sugishita.
Seluruh pasang mata menatap mereka, apalagi Sakura di kursi rodanya yang menutup mulutnya tak percaya. "OH, JADI ITU LO?!"
Yang lainnya segera tertawa terbahak-bahak, mulai mendekati Sugishita dan Kotoha untuk bertanya apa hubungan mereka, lain halnya dengan Umemiya yang bergegas mendekati Sakura setelah mendengar suaranya yang tinggi.
"Sayang ... Jangan keras-keras, nanti dadamu sakit," tegurnya.
Sakura berkedip cepat, menyentuh dadanya sendiri dan mengangguk mengerti. "Tapi tetep aja bikin kaget! Woy Sugishita, lo berhutang penjelasan sama gue!"
"Haha, sama kita semua, btw! Sejak kapan sih kalian deket?" tanya Mizuki.
Kotoha tersenyum lebar, tapi dia mengibaskan tangannya untuk mengusir mereka. "Udah ah, kepo banget. Gue pulang dulu ya meng, Abang! Bye, semuanya!"
Lengan Sugishita diraih, kemudian mereka kabur tanpa memberi penjelasan apapun. Umemiya hanya melihat kepergian mereka dengan dengusan kecil, sedikit terkejut, tapi dia tidak mempermasalahkan sama sekali.
Satu persatu sekarang semuanya telah pulang, sampai tersisa Sakura dan Umemiya saja di depan pintu. Ditinggalkan dengan suasana yang tenang di sore hari, bahkan hampir menjelang malam karena langit sudah mulai berubah jingga. Sakura tersenyum senang sambil menikmati angin sore, tubuhnya sangat ingin bangkit dan berjalan di halaman dengan, menginjak rumput basah yang terkena air hujan.
"Kak Ume, aku pengen ke sana--"
"Ayo masuk, udah mulai dingin."
Bibir Sakura segera terkatup lagi, menahan senyumnya agar tetap terukir, lalu mengangguk. "... Ok."
Umemiya mendorong kursi rodanya dan membawa Sakura kembali ke dalam rumah yang aman, dia dorong sampai ke ruang tengah. "Tunggu sebentar ya, biar aku tutup semua gorden dulu."
Ciuman di kening tidak pernah terasa hambar, kali ini hanya terasa dingin, Sakura hanya menatap ketika Umemiya pergi dan mulai menutup semua gorden jendela, Sakura merasa Umemiya menghalangi pandangannya dari dunia luar.
'*Gak apa-apa, hari ini hari yang bagus ... Kak Ume pasti udah berhasil dibujuk ... Gue cuma perlu sabar*.'
Sakura merasa pegal dan suasananya bagus, dia bangun perlahan dari kursi roda dan berniat menghampiri Umemiya sendiri. Mungkin mereka bisa membahas soal ke psikiater secepatnya. Baru dua langkah, Umemiya sudah menoleh ke arahnya.